“
The languange is more important than light for eyes.”
Kiranya itulah yang menjadi dasar Ny. Sullivan untuk terus-menerus mendidik Helen sampai “bisa”. Helen Keller, seorang buta-tuli-bisu yang menjadi orang besar nan berjasa. Berkat kegigihannya dalam belajar serta kesabaran gurunya, ia menjadi perempuan terbatas yang berprestasi. Ia menjadi pengacara terkenal dengan spesifikasi persamaan sosial. Ia juga aktif menyeru kepada dunia untuk peduli kepada orang bisu-tuli. Atas perjuangannya itu, Hellen dianugrahi Honorary University Degrees Women’s Hall of Fame, The Presidential Medal of Freedom, The Lions Humanitarian Award.
Petikan kisah hidupnya semasa kecil difilmkan dengan tajuk “Miracle Worker”. Saya suka film ini, sangat menyentuh. Bahkan, ketika diputar dalam sebuah pelatihan, hampir semua pesertanya menangis terharu.
Film tersebut menceritakan perjuangan Ny. Sullivan dalam mendidik Helen dari tidak bisa, tak mengenal aturan, liar, hingga menjadi gadis cantik, pintar, dan mampu berkomunikasi.
“Dia menciptakan manusia dan mengajarnya pandai berbicara.” (Ar Rahman: 3-4)
Di Indonesia. Film ini tergolong usia dewasa. Stt! Jangan ngeres dulu! Filmnya gak saru blas seperti umumnya film Amerika. Bajunya era 1880-an, masih besar-besar, sopan, dan anggun. Kalau saya bilang tinggal diberi khimar dah jadi jilbab J. (Mungkin) yang membuat ini tergolong film dewasa adalah adegan-adegannya. Beberapa adegan tergolong keras dan kasar. Seperti ketika Ny. Sullivan mendidik Helen pada waktu awal-awal. Helen menyemprotkan air di teko ke wajah Ny. Sullivan, Ny. Sullivan justru membalasnya dengan hal serupa. Istilahe kejem.
Barangkali orang awam akan melihat pola pendidikan Ny. Sullivan itu gak manusiawi. Tapi, saya tidak demikian. Saya sepakat dengan apa yang diperbuat oleh Ny. Sullivan. Ia sangat memahami ilmu psikologi. Keadaan Helen memang menuntut diberi perlakuan “keras”.
Film ini sangat menarik untuk diulas sisi psikologisnya, sangat berkaitan dengan teori belajar, teori behavioristik, dan kepribadian. Karena dah malem dan pekerjaan saya belum selesai, so kapan-kapan aja ya ngulasnya … Tolong saya diingetin!
–DaFi TawON—
—————————————————————————————————————————————-
http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2007090201380554






film yang bagus, saya nonton ketika masih kuliah di psikologi dulu … (hmm, sekarang juga masih kuliah di psikologi ugm
)
this is one of the best movie i have ever seen, s7 skali cerita bagus, akting pemeran2nya keren!
btw, sek meranke helen keller sakiki umure piro yo?
oia, mbok menawa nonton the dark knight, Man. apik lho filme^^ ya rada nyikologis, pngen ndelok psikopat yg loveable, disini Joker tempatnya
iya, bener banget
khusus film the darkness itu kalo gak salah ada discovery channel yang bahas itu. Kalo gak salah judulnya: Psychology of Darkness atau Superhero ya … Lupa, besoklah saya ulas di blog
Mmm, oke deh, saya juga pengen nonton, tinggal nunggu ada yang ngajak or ada yang bajak
film ini menyentuh banget, apalagi ketika pas Ny. Sullivan berhasil mendidik Helen di bagian ending cerita. Tidak sedikit yang menyeka matanya dengan kerta tisu.
Tapi memang oke, dan sangat psikologis.
Ketika Helen mempunyai keterbatasan dalam pendengaran, penglihatan, dan pengucapan. Ny. Sullivan gigih berjuang mengajarkan banyak hal melalui indra yang masih tersisa dan jalur itu ia gunakan maksimal untuk memberikan semua informasi pada Helen.
Pengen nonton lagi bareng temen2 anak psikologi
mas punya filmnya g? kalo ada aquh mau…. dah lama nyari tai bleum ketemu
maaph …. saya gak punya e ..