
Siapa sih yang ga mau dengan Luna Maya? Eh, salah, maksudnya, siapa sih jaksa agung yang gak tergiur suapan Artalyta? Barangkali itu adalah pertanyaan retoris yang diucapkan para jaksa agung muda ketika disodorkan uang milyaran rupiah oleh sang ratu suap, Artalyta Suryani. Hebooh!
Berbicara tentang Artalyta, saya jadi teringat oleh salah satu kisah nyata dramatis tentang salah seorang perempuan China yang hidup semasa zaman kekaisaran Manchuria. Saya kali pertama mengetahui kisah ini ketika menyaksikan sebuah tayangan di kelas Filsafat Umum sewaktu semestet I dulu.
Perempuan itu bernama Yehonala. Sosok perempuan yang cerdas, cantik, ambisius, murah hati, sekaligus kejam. Awalnya dia adalah seorang rakyat biasa, anak seorang pengibar umbul-umbul kerajaan. Sampai suatu ketika, ada pemilihan selir yang dilakukan ibu suri untuk sang putra langit –kaisar maksudnya-, terpilihlah Yehonala sebagai sang selir. Ia tinggal dalam kemewahan di kota terlarang.
Rasa ambisius Yehonala membuatnya tidak hanya ingin diperselir oleh sang kaisar lemah dan sakit-sakitan yang bernama Kaisar Hsieng Feng tersebut, tetapi ia juga ingin menjadi seorang permaisuri. Dan gayung pun bersambut. Permaisuri Hsieng Feng, Nuharoo hanya melahirkan anak perempuan. Sementara Yehonala melahirkan anak laki-laki yang sebenarnya merupakan hasil hubungan gelapnya dengan kekasihnya.
Singkat cerita, kaisar wafat, dan Yehonala yang kemudian bergelar Tzu Hsi (bacanya Ci Xi, artinya Ratu Istana Barat), mengangkat anaknya yang berusia 5 tahun menjadi kaisar – sang pewaris tahta naga. Tzu Hsi di barat dikenal dengan nama Empress Dowager. Anaknya kemudian bergelar Kaisar Tung Chih. Otomatis sang kaisar yang sangat muda ini belum bisa apa-apa. Oleh karena itu, yang menjalankan roda pemerintahan dari a-z, dari luar ampe dalem, tidak lain dan tidak bukan adalah Tzu Hsi. Selama menjadi ‘ibu suri’ (1860-1908), Tzu Hsi dikenal bengis dan tak punya belas kasihan pada siapa pun yang berseberangan pendapat dengannya. Bahkan ia menahan kaisar yang tidak sependapat dengannya. Sudah barang tentu yang mengangkat kaisar pengganti Tung Chih yang tidak lain adalah kemenakannya itu, adalah juga dirinya.
Salah satu sisi positif Tzu Hsi adalah keinginannya untuk mengusir warga asing dari kampung halamannya, China (bacanya kaya’ presenternya MetroTV, chaina). Kisah sendu nan dramatis ini telah diangkat dalam banyak novel dan buku di antaranya, “A Century of Chinese Revolution 1851-1949, Imperial Women karya Pearls S. Buck yang kemudian dialihbahasakan oleh Lily Wibisono dengan judul “Maharani.” Muriel Jernigan, The Forbidden City, dan Keith Ladler, The Last Empress: The She-Dragon of China.
Kalau menurut saya, kekuatan Artalyta dan Tzu Hsi itu ada kemiripannya. Tzu Hsi bisa mengendalikan roda pemerintahan, dan Artalyta bisa mengendalikan hukum dan ekonomi. Selain itu, ada lagi satu kesamaan, mereka sama-sama tidak bisa mengendalikan air, api, angin, dan tanah seperti Aang, sang avatar.
) He he he.
Layaknya artis, kini percakapan Artalyta dan Kiemas banyak dijadikan ringtone. Berawal dari situ, saya coba googling. Alhamdulillah, berhasil download. Lumayan, untuk koleksi. Kalau temen-temen yang lain bilang sebagai kampanye anti korupsi. Ah, terserah deh…
Nah, buat temen-temen yang pengen juga, bisa klick di sini.
–DaFiTawON—
—————————————
Referensi:
Film The Forbidden City
http://www.liputan6.com/news/?id=161020&c_id=7
http://bookstheresa.blogspot.com/2007/07/maharani-imperial-woman.html
http://november-november.blogspot.com/2008/05/yehonala-nuharoo-thung-chinh-dan-nanny.html
http://www.korantempo.com/korantempo/2007/09/02/Buku/krn,20070902,22.id.html
http://faculty.randolphcollege.edu/fwebb/buck/tmquash/dowager.html






lagi2 artalyta…..apa bakal menjadi orang yg berpengaruh di indo thn 2008 nech?…..
mungkin … abizz fenomenal siy, aje gile ARtalyta-nya satu, jaksa mudanya banyak …
jasa mudanya banyak, artalyta nya satu ..
Seru ya jika kita berikir konspiratif terhadap kasus ini…Dukung dengan doa…semoga koruptor2 pada ketangkep, syukur2 jadi tobat…Bangkit Indonesiaku!!
Kalo tulisannya “ci xi” bacanya “je si” huruf e dalam je dibaca seperti e dalam telah
ok deh pak son. yang original, emang lebih competence… peace!
Astaghfirullah……
aku setuju aja bahwasannya koruptor harus diberantas! bahkan kasus suap menyuap.
yang nggak aku setuju yaitu banyak orang yang justru membuka, bahkan menyebarkan aib seseorang itu, menurutku, gak pantas bagi kita dan sangat gak penting banget membuka atau menyebarkan aib2 seseorang! seharusnya kita bisa mengelus dada kita, prihatin kok ada yang kaya gitu, dan gak perlu di sebar2kan aib orang yang melakukan itu, ada kalanya seseorang itu khilaf dan melakukan salah, dan jangan salahnya seseorang itu justru dijadikan bahan tertawaan dan caci makian!
moga aja bu artalyta bisa insyaf..
daku tidak mengerti,,,wa,,,ktinggalan brita
hihihihi
ada ada aja sih Indonesia ~.~
ah ana .. seperti tidak tahu indonesia saja …
haha…
slama liburan kemarin aku ngikutin kisah bu ayin..
seru bgd (??)
apalagi rekaman yg trakhir pas bu Ayin di penjara…
hehehe..aku malah ketawa2 di rumah…
(aneh ya?..hehe)
dibuat novel keren kayaknya :p
Subhanallah..emang rencana serapi apapun ga ada apa2nya dibanding skenario-Nya…
hidup KPK…!!
Selamat buat KPK atas keberhasilannya mulai memberantas korupsi di Indonesia.
Tapi untuk seluruh rakyat Indonesia, tolong perhatikan ini:
Seandainya kita berada dalam posisi Artalyta, untung Uji Santoso, Yahya Kiemas, Al Amin Nasution, dll, Apakah kita sanggup tidak korupsi…??? Apakah kita sanggup bertahan hidup sempurna…??? Mungkin kita seperti supporter sepak bola, mempersalahkan pemain jika dia salah menendang, padahal belum tentu dia bisa melakukan tendangan yang benar jika dia berada pada posisi sang pemain.
Janganlah melihat debu di mata orang lain, tapi melupakan gajah yang ada di pelupuk mata kita.
Saya sangat tidak setuju dengan tindakan korupsi, tapi janganlah terlalu mempersalahkan orang yang melakukannya, itu adalah bahagian Tuhan untuk mempersalahkannya, bukan bagian kita, jadi jangan ambil bagian Tuhan, karena itu berarti kita menyamakan diri kita dengan-Nya.
Marilah kita melakukan yang terbaik dalam hidup ini….!!!!
Hidup KPK….!!!!