Kamis malam, 12 Juni yang lalu, seusai nonton film “Miracle Worker” dalam rangka memotivasi adik-adik lesan (maksudnya adek yang les dengan saya), saya menjemput saudara di daerah Janti. Dia pulang dari Jakarta. Karena ternyata sama-sama belum makan, maka berangkatlah kami mencari warung makan. Semula, saya ingin ke “Sego Bakar” deket Muga (selatan wirobrajan). Saya penasaran. Jangan-jangan itu hanya sego dibungkus godong bakar seperti yang dulu saya makan ketika ditraktir Luqman. Tapi, Allah berkehendak lain. Tiba-tiba di daerah turunan depan Perpusda dekat Samsat, motor saya gerak ke kanan dan ke kiri. Seketika itu saya langsung merasa “Iki bocor!” Saudara saya masih belum percaya dan berkata, “Nggak ah dek!” Dan perdebatan ringan itu berakhir ketika kami sama-sama melihat keadaan ban yang ternyata sudah kempes pes pes.
Saya agak bingung, mau cari tambal bal di mana, lha wong sudah larut malam, sekitar jam 10an lebih. Kebetulan di dekat situ, ada seorang bocah perempuan pengamen. Saya beranikan untuk tanya, “Di mana tambal ban terdekat?” Semula, adeknya diam. Kemudian melongok daerah sekitar perempatan Badran. Dia berkata sudah tutup. Tapi, kemudian dia ingat dan berkata, “O, ada mas, di situ. Masih buka.”
Akhirnya kami pun menuju tempat yang telah ditunjukkan. Alhamdulillah, gak perlu jalan jauh untuk mencari tambal ban dalam waktu semalam itu. Kami menunggu agak lama coz ada lubang. Ketika kami menunggu, adek itu lewat di depan kami, sepertinya akan pulang. Di luar dugaan saya, adek itu tersenyum. Saya balas senyum dan ucapan terimakasih. Adek itu masih inget dengan saya.
Dibanding cerita saudara saya tentang “Kejamnya dunia, eh salah, maksudnya kejamnya Jakarta” tentu Jogja ini lebih menyenangkan. Masih banyak orang mau menolong dengan ikhlas tanpa balas. Bahkan, pada orang yang tidak dikenal sebelumnya. Terima kasih Allah.






Masih banyak yah manusia mulia di dunia ini…Dan menurut saya, sebagai calon Psikolog kita diberikan tanggung jawab untuk melejitkan potensi kebaikan itu dalam diri manusia. Karena menurut Mahzab Humanistik dan juga Islam, pada dasarnya manusia itu baik. Dan menurut saya dalam diri seorang manusia terdapat sebuah komponen yang siap menunggu untuk membuat hati yakin, lisan berikrar, dan tubuh beramal dalam kalimat “Laa ilaaha illallah, Muhammadurrasulullah”
setuju….!
benar , setuju dg anda bung fiqh. manusa mempunyai dasar yg baik, lahir dlm keadaan fitrah, dan faktor orang tua, proses perkembangan diri dan lingkunganlah yg menjadikan seperti apa orang tersebut.
panggil dong mas… sini dek… nih sepuluh ribu buat adek makan sehari besok…. hehehehe
“::. ngacirrr ::..”
eh salam kenal dulu ding