Saat saya mengikuti taujihad yang diisi oleh Ustadz Natsir Haris, Lc pada kesempatan Mukhoyam [tarbiyah jasadiyah], Sabtu, 24 Mei yang lalu, tiba-tiba di tengah acara, ada seekor kucing kecil yang “caper” di hadapan peserta. Dia main-main kabel mic yang sedang dipakai Ustadz Natsir. Tidak hanya itu, dia juga main-main di sekitar area panggung: di bawah meja, di belakang layar, dan sekitarnya.
Akhirnya acara pun usai. Dan kami kembali ke tenda masing-masing untuk beristirahat setelah seharian melakukan outdoor activity. Pada saat awal malam – maksudnya awal tidur, saya bertugas untuk jaga malam. Nah, setelah beberapa waktu berlalu, tiba-tiba dalam tenda terjadi kegaduhan. Mereka berkata:
“Kok anget?”,
“Hush!”,
“Gowo Metu!”
Ternyata tanpa sepengetahuan kami, kucing caper tadi ikut masuk dan tidur di tenda kami. Sampai akhirnya teman saya menyadari keganjilan tersebut kemudian mengamankan kucing itu di tempat lain.
Alhamdulillah, saya ga tidur saat itu, saya di luar tenda. Karena memang saya agak gimana gitu dengan kucing. Bukannya apa2, tapi saya itu punya alergi debu, yang kalau sedang kumat, bisa bersin ampe banyak kali (bisa dicek dengan bertanya pada teman2 dekat dan sekelas saya dulu, halah!).
Cerita belum berakhir. Dini hari, kami semua dibangunkan dan diberi tugas untuk melakukan suatu kegiatan “pE***G b*D** yang bertujuan untuk menyiapkan siasat dan fisik bila keadaan genting terjadi. Singkat cerita, saya pun terduduk di sebuah bangku di bawah terpal di dekat pohon. Udara malam itu begitu dingin dan kelopak mata terasa sangat berat. Saya pun menaruh kepala sejenak di atas meja di dekat kursi tersebut.
Tak lama setelah itu, saat saya terbangun, kucing caper itu kembali ke hadapan saya. Saya agak risih dan berusaha menjauhkannya dari tubuh saya. Tapi, dia mengeong kasihan. Hati saya pun mengalahkan rasio. Saya biarkan kucing itu meloncat ke arah pangkuan saya. Lagi-lagi, hati saya luluh. Saya belai kucing itu, dari kepala hingga punggungnya. Dan yang terjadi adalah dia tertidur, tampak nyaman dan senang sekali … di berada dalam pangkuan saya.
Seketika itu saya langsung teringat dengan teori “kecemasan dasar” dari psikolog wanita, Karen Horney. Horney mengatakan bahwa semua manusia itu mengalami kecemasan dasar dan kecemasan tersebut dialami sejak bayi. Nah, salah satu hal yang dapat mengatasinya adalah dekapan dan pelukan seorang ibu. Kecemasan dasar yang tidak teratasi dapat mengakibatkan gejala2 neurosis yang sudah barang tentu merugikan.
Kemudian saya berpikir, barangkali kucing ini sedang mengalami kecemasan dasar dan tidak teratasi. Tak ada ibu di sampingnya. Di usianya yang muda, seharusnya ia masih minum susu dari puting ibunya. Bukannya berkeliaran mengeong sendiri tanpa teman dan keluarga.
Ya Allah, alangkah beruntungnya saya. Kecemasan dasar saya teratasi. Seusai acara ini pun, saya masih bisa menemui ibu saya di rumah. Tidak seperti kucing kecil ini …
–DaFiTawON–






“Kok anget?”,
“Hush!”,
“Gowo Metu!”
Huahahahahahahahahaa
Wah man, koe nyindir aku yo,hehehe
ketoke le muni
“kok Anget?”
**u je,,,,,
penghargaan buat yoga yang telah setia membaca dan memberi koment untuk blok saya … syukron katsir ..
o, ternyata itu fajar tho …
saya ndak tahu pasti, kan saya di luar ..
Wah, pede nulis tentang mukhoyam
btw
kok ustadz nasir haris g nyadar sama kucinge itu y ? Ttp bertausiyah dgn semangat !!!
Turu ng pangkuanmu po man ? Mungkin kamu dikira ibunya !!!
Kudune koksusoni og man WAKAKAKAK
wo alah,, pantesan,,
nuwun yo man !!!
smangat2 !!!
regards.salam