Teletubbies Usang

Pernah suatu malam, ketika duduk di meja makan, tiba-tiba ada sesosok kecil menghampiri salah satu sudut luar rumah. Saya langsung kaget, siapa dia gerangan? Kok malem-malem keliaran, hujan-hujanan lagi. Padahal, dalam suasana malam itu, tentu berada di rumah dengan selimut tebal dan minuman hangat menjadi pilihan nomor satu. Apalagi dia anak kecil, tentu tidak akan dibolehkan oleh orang tuanya.
Karena didorong rasa penasaran yang tinggi maka saya dekatilah pintu. Belum sampai berada di bibir pintu, sosok itu sudah beranjak terlebih dahulu dari sudut luar. Saya kembali terperangah ketika melihat dia dan apa yang dibawa. Ternyata dia adalah seorang bocah laki-laki – yang menurut perkiraan saya duduk di bangku kelas 3 SD – sedang membawa tempat sampah. Wajahnya lusuh tapi penuh semangat. Ia tampak riang. Mungkin karena dia masih kecil sehingga tidak tahu persis apa yang dilakukannya. Pakaiannya agak sedikit kumal dan dia berjalan tanpa alas kaki. Meski hujan, kepalanya tetap terbuka tanpa ada sesuatu apapun yang menghalangi masuknya air hujan ke sela-sela rambutnya yang kemerahan. Ternyata dia adalah anak Pak Sampah yang tempo hari bertugas di komplek kami. Saya jadi tertegun dan salut. Bocah itu, di waktu malam dingin dan hujan, tetap saja berusaha membantu orang tuanya yang memang keadaannya sudah sepuh.
Belum berhenti sampai disitu, saya masih penasaran dengan bocah tadi. Maka saya ikutilah dia ke lapangan komplek, tempat di mana gerobak sampah diparkirkan. Saya kembali kaget ketika melihat kondisi gerobak itu. Saya takjub. Sebenarnya gerobak itu sama dengan gerobak sampah pada umumnya, besi tua yang karatan, roda yang sesungguhnya hanya bisa dipakai untuk sekadar berjalan tanpa memperhitungkan apakah selip atau tidak, dan bau yang menyengat. Akan tetapi ada hal yang berbeda dengan gerobak itu. Suatu hal yang mungkin tidak akan ditemui pada gerobak sampah lainnya. Sesuatu yang akan membuat orang miris dan terperangah atau bahkan bisa pula jijik. Sesuatu itu adalah sebuah boneka teletubbies usang yang dipasang di belakang gerobak. Saking usangnya, warna yang menjadi ciri khasnya pun sudah tak nampak lagi, apakah merah atau kuning.
Seketika itu, pikiran saya langsung terbayang kepada si bocah tadi. Saya rasa boneka itu memiliki banyak arti buat si bocah. Boneka itu adalah hiburan dan motivator si bocah. Muka boneka yang menghadap ke bawah seolah memberi harapan dan seruan semangat kepada bocah. Meski usang tapi raut boneka itu tersenyum. Anak kecil yang melihat biasanya langsung merasa terhibur. Saya jadi terbayang bagaimana anak kecil itu menemani dan membantu ayahnya bekerja. Ia berjalan di belakang gerobak sembari melihat boneka itu. Sebuah penyemangat layaknya –maaf– kerbau yang berkerja di penggilingan kacang dengan makanan yang tergantung di depannya. Ia semangat berjalan karena ingin menggapai makanan itu. Begitu pula, si bocah. Ia semangat dan rajin membantu salah satunya karena ada penghibur, sebuah boneka teletubbies usang.
Saya jadi malu dengan si bocah. Kadang kita terlalu meminta syarat sebelum mau mengerjakan perintah orang tua. Dan tak jarang pula syarat itu sebenarnya syarat yang sulit dipenuhi. Misalnya, kita mau memenuhi saran orang tua dalam memilih jurusan ataupun sekolah jika kita diberi sepeda motor. Padahal, di luar sana, dengan tugas yang lebih berat, hanya ada sebuah motivator, usang pula. Kita masih belum pandai dalam bersyukur. Kali ini kita harus belajar dari si bocah.
-DaFiTawON-

2 Tanggapan ke “Teletubbies Usang”


  1. 1 zanif April 15, 2008 pukul 1:51 pm

    selalu belajar dari lingkungan dan sekitar. Insya Allah kita akan pandai bersyukur.

  2. 2 tia Mei 23, 2008 pukul 7:39 pm

    iya ya, kita harus bersyukur dan belajar dari bocah kecil tadi..
    aku jadi malu nih, suka minta syarat sebelum melaksanakan perintah orang tua.. ;p


Tinggalkan Balasan




My Photo

skema perubahan

untuk diupload firman sakit yang kedua

DSC00006

DSC00008

firman sakit untuk diupload

More Photos
who's online
Palestine Blogs - The Gazette